jejak_muttaqin
keimanan itu yang utama
adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah ... (2:165)
Saturday, September 17, 2016
KEPALA SAYA BERASAP DI PROGRAM DR. AZIZAN OSMAN - MILLIONAIRE MARKETING MASTERY
Kepala macam nak pecah, itu yang saya rasa . Hari kedua Millionaire Marketing Mastery (MMM) , saya terasa seperti melihat duit di sekeliling saya.
Macam lawak je kan. Tapi itulah yang kami diajar dalam program MMM Dr. Azizan Osman.
Tepu, padat, padu. Ilmu marketing yang diajar bukan calang-calang.
Berbinar mata sambil perah otak.
Serius terbuka minda tentang marketing.
nantikan sharing saya untuk esok.
#DrAzizanOsmanawesome
Tuesday, November 16, 2010
menata emosi
Kamis, 11/11/2010 13:38 WIB (oase iman-www.eramuslim.com)
Oleh bidadari_Azzam
Beberapa tahun lalu, Saya melihat seorang ibu tengah mengomeli anaknya, “nih nyebelin banget! Makan mulu gak brenti-brenti… kalo minum, airnya tumpah mulu… emaknya gak bisa istirahat…”, bla..bla, dan seterusnya.
Sang ibu memang sering “blak-blakan” bahwa pusing menghadapi situasi ekonomi, uang belanja yang setiap hari terasa makin tidak mencukupi sebab kebutuhan yang kian meningkat, padahal konsumsi anak-anak cukup banyak, terutama di masa pertumbuhan.
Belum lagi biaya listrik, air, dan kebutuhan lain yang terus menjulang. Hal tersebut ternyata bisa meningkatkan emosi, mengurangi ungkapan dan kata-kata sayang kepada keluarga.
Di lain masa, ada ibu yang mudah sekali menjadi beringas dengan (menampar) memukul pipi, menarik telinga atau menjambak anak di saat emosi meninggi, latar belakang masalah tentu berbeda, emosi bisa naik gara-gara hari itu belum gajian, tidak dapat diskon belanja di pasar, atau bahan masakan sudah habis namun kantong menipis, ada pula gara-gara ibu sibuk mengurus skripsi karena masih kuliah, dll (seperti pengalaman pribadiku tentunya), astaghfirrulloh…
Suatu ketika di lain waktu, Saya mengunjungi rumah seorang ustadzah di dekat kampusku, selama beberapa jam bercakap-cakap disana, diskusi dan mendengarkan tausiyah beliau, dua anaknya sedang pergi bersekolah, tiga anak kecil di dekat tempat kami duduk yang ternyata anak-anak beliau sedang konsentrasi menyusun puzzle, permainan yang sangat disukai anak-anak.
Ada saatnya bosan, salah satu anak menuju dapur, mengambil segelas air, lalu meminumnya, namun tertumpah di baju dan lantai. Segera sang bunda mendekat seraya berkata, “wah pintarnya…mengambil minuman sendiri, hebat anak bunda!”, lalu dengan cekatan mengelap air di lantai dan membuka baju si anak yang basah, anaknya berlari ke arah kamar, mengambil baju ganti, saat keluar ruangan, telah berpakaian rapi kembali.
Sedangkan dua anak lain, ikut menuju dapur, sibuk mencari makanan lalu bersuapan gorengan dan buah yang mereka temukan di atas meja. Kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu rumah, ternyata seorang petugas yang biasanya menagih iuran listrik dan air, sang ustadzah pamit sebentar dari hadapan kami, lalu membayar iuran tersebut, ia lebihkan dananya seraya berkata perlahan, “kembaliannya buat bapak yah…”, pak tua penagih iuran itu mengucap terima kasih.
Saat duduk bersama kami kembali, sang ustadzah berkata, “bulan ini iuran listrik dan air naik lagi lho…”, seraya tersenyum. Saya teringat bahwa banyak ibu-ibu yang saling curhat mengenai sekelumit dana rumah tangga, apalagi inflasi yang begitu cepat. Sehingga tergelitik untuk bertanya, “tapi koq tenang-tenang aja yah,ummu? Padahal banyak orang yang ngedumel, kesal, apalagi Saya lihat ummu tenang dan nyantai aja sikapnya, sama anak-anak pun tetap penuh kasih sayang, di tengah kepenatan dan kondisi finansial yang juga membuat kepala pusing…”.
“Saya juga punya masalah, neng…pusing juga urusan dana keluarga yang harus diatur dengan baik, kebutuhan terus bertambah, sedangkan pemasukan tetap gak jauh berbeda…”, beliau menjawab jujur.
“Namun…kalau kita terus-terusan memikirkan hal itu, tanpa ikhtiar untuk lebih memanage-nya, maksudnya menata hati, emosi, mengatur keuangan dengan lebih baik dll…makanya bisa jadi lebih mudah marah, kesal, dan keluarlah omelan-omelan terutama korban omelan adalah anak-anak…Padahal, anak-anak adalah amanahNYA, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar selalu menjadi penyejuk hati….”, lanjutnya.
“seorang ibu adalah sosok yang paling cepat diteladani anak-anaknya, sehingga sadar atau tidak sadar, saat anak mudah memukul teman, mudah memarahi orang sekitarnya, bisa jadi hal itu karena dia terbiasa melihat prilaku sang orang tua, terutama ibu yang memiliki waktu lebih lama bersama anak-anak…”, urainya.
Sungguh menyejukkan nurani, jikalau kita memiliki problema kemudian meminta saran atau nasehat kepada saudara/saudari yang sholeh, yang mengetahui perihal problema tersebut, terutama bila dikaitkan dengan dua pegangan kita : Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Dengan berbagi kepada orang yang tepat, bertukar pikiran dengan berbagai sudut pandang berbeda, saat itulah kita makin terlatih menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Insya Allah.
Ada beberapa tips agar hati kita tetap terjaga saat dirundung banyak masalah, apalagi saat ini makin perihnya pertiwi dirundung prahara, menata emosi sangat kita perlukan terutama mengenai anak-anak kita yang tengah merajut masa depan gemilang mereka :
1. Senantiasa mengingat Allah SWT,
Semoga dengan rahmat dan karuniaNya, Allah SWT membimbing kita untuk menjadi ahli zikir, memberikan kekuatan lahir dan batin untuk selalu mengingatiNya, memperbaiki ibadah dan membersihkan hati agar dapat menjadi hamba yang baik di hadapanNYA, dan di depan makhlukNya.amiin,
Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di setiap waktunya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Kebiasaan dan keadaan Nabi yang senantiasa mengingat Allah ini, berbanding lurus dengan apa yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur‘an,
“… Yaitu orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan tidurnya.” (Ali Imran: 190-191)
2. Saat hati gundah atu kesal, segeralah berwudhu bersama anak.
Berwudhu dapat meredakan amarah, Rasulullah SAW bersabda, Bila seorang Muslim atau mukmin berwudhu, ketika membasuh muka, maka keluar dari wajahnya dosa-dosa yang pernah dilakukan matanya bersama tetesan air yang terakhir. Ketika membasuh kedua tangannya, maka keluarlah setiap dosa yang pernah dilakukan tangannya bersama tetesan air yang terakhir. Ketika membasuhkakinya, maka keluarlah dosa yang dijalani oleh kakinya bersama tetesanair yang terakhir, sampai ia bersih dari semua dosa. (HR Muslim).
Sebelum tidur pun, tak hanya mengajarkan gosok gigi, berwudhu sangatlah penting dilakukan sebelum tidur, Sebab dengan selalu menjaga wudhu, seseorang akan lebih terjaga perilaku serta kesehatan fisik dan jiwanya. Dari Al Bara’ bin ‘Azid, Rasulullah SAW bersabda, Kapan pun engkau hendak tidur berwudhulah terlebih dahulu sebagaimana engkau hendak mengerjakan shalat, berbaringlah dengan menghadap ke arah kanan dan berdoalah (HR Bukhari).
Hikmahnya, kita mengawali tidur dengan wudhu dan tetap berzikir (mengingatNYA) maka tidur lelap kita bernilai ibadah, anak-anak yang masih kecil terbiasa seperti ini, insyaAllah hingga dewasa akan menjadi sosok muslim yang sholeh, senantiasa menjaga kesucian lahir-bathinnya.
3. Jangan bosan mengulang-ulang kata mesra dalam keluarga.
Seringkali kita merasa jengkel jika anak-anak lupa dan lupa lagi tentang suatu hal atau nasehat orang tua, janganlah bosan mengingatkannya, seraya ditambahkan kata-kata mesra dan penuh rasa sayang dalam tiap momen menasehatinya. Biasanya, saat bermain di taman, sebelum tidur, sebelum berangkat sekolah, usai sholat, atau selagi membereskan piring setelah makan, adalah waktu-waktu “jeda” yang efektif untuk mengungkapkan untaian nasehat terbaik buat anak.
4. Bercerminlah, sambil membaca do’a kepadaNYA,
“ Ya Allah! sebagaimana Engkau telah memberiku rupa yang baik, maka jadikanlah baik pula akhlaqku, Amin” , di depan cermin ada wajah cantik atau tampan bila tersenyum, dan sungguh jelek serta menyeramkan bila sedang marah atau kesal, pikirkan bagaimana “kenangan bagi mujahid kecil kita” saat memandang orang tua yang menyeramkan di depannya,saat amarah membuncah di dada, naudzubillah...
5. Tetap bersyukur dan bersabar sebagai solusi,
Mari kita bersyukur atas permasalahan yang ada, artinya Allah SWT menyayangi kita, percaya bahwa kita dapat menemukan solusinya. Memiliki anak-anak sebagai amanahNya harus selalu disyukuri, masih banyak saudara kita yang diberikan ujian berat dengan tidak dapat melahirkan anak-anak dari rahimnya sendiri, dll. Sedangkan bagi kita yang telah dititipi harta terindah ini, kesabaran adalah kunci sukses untuk tetap menata hati saat merawat dan mendidik mereka. PesanNYA, “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”, (QS. Luqman : 31)
Semoga setinggi apapun inflasi dan sesulit apapun kondisi saat ini, kita semua mampu menata kalbu, mengontrol emosi diri, sehingga tetap santun menghadapi semua mujahid kecil, penyejuk mata dan hati kita, sosok anak-anak harapan bangsa dan merupakan generasi yang menjadi penerus cita-cita umat.
(bidadari_Azzam, seorang Ibu yang masih harus lebih banyak belajar, terutama tentang kesabaran& keikhlasan. Krakow, pengalaman pribadi, 4 november 2010)
Oleh bidadari_Azzam
Beberapa tahun lalu, Saya melihat seorang ibu tengah mengomeli anaknya, “nih nyebelin banget! Makan mulu gak brenti-brenti… kalo minum, airnya tumpah mulu… emaknya gak bisa istirahat…”, bla..bla, dan seterusnya.
Sang ibu memang sering “blak-blakan” bahwa pusing menghadapi situasi ekonomi, uang belanja yang setiap hari terasa makin tidak mencukupi sebab kebutuhan yang kian meningkat, padahal konsumsi anak-anak cukup banyak, terutama di masa pertumbuhan.
Belum lagi biaya listrik, air, dan kebutuhan lain yang terus menjulang. Hal tersebut ternyata bisa meningkatkan emosi, mengurangi ungkapan dan kata-kata sayang kepada keluarga.
Di lain masa, ada ibu yang mudah sekali menjadi beringas dengan (menampar) memukul pipi, menarik telinga atau menjambak anak di saat emosi meninggi, latar belakang masalah tentu berbeda, emosi bisa naik gara-gara hari itu belum gajian, tidak dapat diskon belanja di pasar, atau bahan masakan sudah habis namun kantong menipis, ada pula gara-gara ibu sibuk mengurus skripsi karena masih kuliah, dll (seperti pengalaman pribadiku tentunya), astaghfirrulloh…
Suatu ketika di lain waktu, Saya mengunjungi rumah seorang ustadzah di dekat kampusku, selama beberapa jam bercakap-cakap disana, diskusi dan mendengarkan tausiyah beliau, dua anaknya sedang pergi bersekolah, tiga anak kecil di dekat tempat kami duduk yang ternyata anak-anak beliau sedang konsentrasi menyusun puzzle, permainan yang sangat disukai anak-anak.
Ada saatnya bosan, salah satu anak menuju dapur, mengambil segelas air, lalu meminumnya, namun tertumpah di baju dan lantai. Segera sang bunda mendekat seraya berkata, “wah pintarnya…mengambil minuman sendiri, hebat anak bunda!”, lalu dengan cekatan mengelap air di lantai dan membuka baju si anak yang basah, anaknya berlari ke arah kamar, mengambil baju ganti, saat keluar ruangan, telah berpakaian rapi kembali.
Sedangkan dua anak lain, ikut menuju dapur, sibuk mencari makanan lalu bersuapan gorengan dan buah yang mereka temukan di atas meja. Kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu rumah, ternyata seorang petugas yang biasanya menagih iuran listrik dan air, sang ustadzah pamit sebentar dari hadapan kami, lalu membayar iuran tersebut, ia lebihkan dananya seraya berkata perlahan, “kembaliannya buat bapak yah…”, pak tua penagih iuran itu mengucap terima kasih.
Saat duduk bersama kami kembali, sang ustadzah berkata, “bulan ini iuran listrik dan air naik lagi lho…”, seraya tersenyum. Saya teringat bahwa banyak ibu-ibu yang saling curhat mengenai sekelumit dana rumah tangga, apalagi inflasi yang begitu cepat. Sehingga tergelitik untuk bertanya, “tapi koq tenang-tenang aja yah,ummu? Padahal banyak orang yang ngedumel, kesal, apalagi Saya lihat ummu tenang dan nyantai aja sikapnya, sama anak-anak pun tetap penuh kasih sayang, di tengah kepenatan dan kondisi finansial yang juga membuat kepala pusing…”.
“Saya juga punya masalah, neng…pusing juga urusan dana keluarga yang harus diatur dengan baik, kebutuhan terus bertambah, sedangkan pemasukan tetap gak jauh berbeda…”, beliau menjawab jujur.
“Namun…kalau kita terus-terusan memikirkan hal itu, tanpa ikhtiar untuk lebih memanage-nya, maksudnya menata hati, emosi, mengatur keuangan dengan lebih baik dll…makanya bisa jadi lebih mudah marah, kesal, dan keluarlah omelan-omelan terutama korban omelan adalah anak-anak…Padahal, anak-anak adalah amanahNYA, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar selalu menjadi penyejuk hati….”, lanjutnya.
“seorang ibu adalah sosok yang paling cepat diteladani anak-anaknya, sehingga sadar atau tidak sadar, saat anak mudah memukul teman, mudah memarahi orang sekitarnya, bisa jadi hal itu karena dia terbiasa melihat prilaku sang orang tua, terutama ibu yang memiliki waktu lebih lama bersama anak-anak…”, urainya.
Sungguh menyejukkan nurani, jikalau kita memiliki problema kemudian meminta saran atau nasehat kepada saudara/saudari yang sholeh, yang mengetahui perihal problema tersebut, terutama bila dikaitkan dengan dua pegangan kita : Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Dengan berbagi kepada orang yang tepat, bertukar pikiran dengan berbagai sudut pandang berbeda, saat itulah kita makin terlatih menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Insya Allah.
Ada beberapa tips agar hati kita tetap terjaga saat dirundung banyak masalah, apalagi saat ini makin perihnya pertiwi dirundung prahara, menata emosi sangat kita perlukan terutama mengenai anak-anak kita yang tengah merajut masa depan gemilang mereka :
1. Senantiasa mengingat Allah SWT,
Semoga dengan rahmat dan karuniaNya, Allah SWT membimbing kita untuk menjadi ahli zikir, memberikan kekuatan lahir dan batin untuk selalu mengingatiNya, memperbaiki ibadah dan membersihkan hati agar dapat menjadi hamba yang baik di hadapanNYA, dan di depan makhlukNya.amiin,
Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di setiap waktunya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Kebiasaan dan keadaan Nabi yang senantiasa mengingat Allah ini, berbanding lurus dengan apa yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur‘an,
“… Yaitu orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan tidurnya.” (Ali Imran: 190-191)
2. Saat hati gundah atu kesal, segeralah berwudhu bersama anak.
Berwudhu dapat meredakan amarah, Rasulullah SAW bersabda, Bila seorang Muslim atau mukmin berwudhu, ketika membasuh muka, maka keluar dari wajahnya dosa-dosa yang pernah dilakukan matanya bersama tetesan air yang terakhir. Ketika membasuh kedua tangannya, maka keluarlah setiap dosa yang pernah dilakukan tangannya bersama tetesan air yang terakhir. Ketika membasuhkakinya, maka keluarlah dosa yang dijalani oleh kakinya bersama tetesanair yang terakhir, sampai ia bersih dari semua dosa. (HR Muslim).
Sebelum tidur pun, tak hanya mengajarkan gosok gigi, berwudhu sangatlah penting dilakukan sebelum tidur, Sebab dengan selalu menjaga wudhu, seseorang akan lebih terjaga perilaku serta kesehatan fisik dan jiwanya. Dari Al Bara’ bin ‘Azid, Rasulullah SAW bersabda, Kapan pun engkau hendak tidur berwudhulah terlebih dahulu sebagaimana engkau hendak mengerjakan shalat, berbaringlah dengan menghadap ke arah kanan dan berdoalah (HR Bukhari).
Hikmahnya, kita mengawali tidur dengan wudhu dan tetap berzikir (mengingatNYA) maka tidur lelap kita bernilai ibadah, anak-anak yang masih kecil terbiasa seperti ini, insyaAllah hingga dewasa akan menjadi sosok muslim yang sholeh, senantiasa menjaga kesucian lahir-bathinnya.
3. Jangan bosan mengulang-ulang kata mesra dalam keluarga.
Seringkali kita merasa jengkel jika anak-anak lupa dan lupa lagi tentang suatu hal atau nasehat orang tua, janganlah bosan mengingatkannya, seraya ditambahkan kata-kata mesra dan penuh rasa sayang dalam tiap momen menasehatinya. Biasanya, saat bermain di taman, sebelum tidur, sebelum berangkat sekolah, usai sholat, atau selagi membereskan piring setelah makan, adalah waktu-waktu “jeda” yang efektif untuk mengungkapkan untaian nasehat terbaik buat anak.
4. Bercerminlah, sambil membaca do’a kepadaNYA,
“ Ya Allah! sebagaimana Engkau telah memberiku rupa yang baik, maka jadikanlah baik pula akhlaqku, Amin” , di depan cermin ada wajah cantik atau tampan bila tersenyum, dan sungguh jelek serta menyeramkan bila sedang marah atau kesal, pikirkan bagaimana “kenangan bagi mujahid kecil kita” saat memandang orang tua yang menyeramkan di depannya,saat amarah membuncah di dada, naudzubillah...
5. Tetap bersyukur dan bersabar sebagai solusi,
Mari kita bersyukur atas permasalahan yang ada, artinya Allah SWT menyayangi kita, percaya bahwa kita dapat menemukan solusinya. Memiliki anak-anak sebagai amanahNya harus selalu disyukuri, masih banyak saudara kita yang diberikan ujian berat dengan tidak dapat melahirkan anak-anak dari rahimnya sendiri, dll. Sedangkan bagi kita yang telah dititipi harta terindah ini, kesabaran adalah kunci sukses untuk tetap menata hati saat merawat dan mendidik mereka. PesanNYA, “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”, (QS. Luqman : 31)
Semoga setinggi apapun inflasi dan sesulit apapun kondisi saat ini, kita semua mampu menata kalbu, mengontrol emosi diri, sehingga tetap santun menghadapi semua mujahid kecil, penyejuk mata dan hati kita, sosok anak-anak harapan bangsa dan merupakan generasi yang menjadi penerus cita-cita umat.
(bidadari_Azzam, seorang Ibu yang masih harus lebih banyak belajar, terutama tentang kesabaran& keikhlasan. Krakow, pengalaman pribadi, 4 november 2010)
Monday, November 15, 2010
hati-hati menjaga hati
Bismillahirrahmanirrahim,
“Hati-hati menjaga hati, Ain”. Pesanan itu disampaikan oleh kak Nor yang sama-sama denganku mabit di rumah akhwat,. Aku memandang wajah kak Nor meminta penjelasan kerana kiraku ada maksud yang tersirat di sebalik pesanannya itu. Sambil tersenyum dia memegang tanganku dan berkata, “Hati kita ibarat teko, kalau yang diisi itu airnya teh, maka bila dituang juga air teh kan”.
Aku hanya mengiakan dengan mengangguk. Kak Nor menyambung lagi, “Jadi bila hati kita diisi dengan perkara kebaikan,maka kebaikan juga yang akan kita lakukan dalam kehidupan seharian kita. Mustahil bilamana diisi hati kita dengan keburukan, yang keluarnya kebaikan atau diisi dengan kebaikan , yang dikeluarkan keburukan atau kejahatan. Ibaratnya kita isi teko tu dengan air habbatussauda,tapi bila kita tuang air dari teko tu yang keluarnya tiba-tiba air tebu”. Aku ketawa dengan kata-kata kak Nor yang terakhir itu. Walaupun berbentuk gurauan tapi ada kebenarannya.
Pesanan kak Nor itu disampaikan beberapa tahun yang lepas, waktu aku di tahun satu. Sekarang hampir 4 tahun berlalu tapi aku sentiasa mengingatinya…Pesanan yang sangat bermakna untuk orang yang baru mengenali apa itu erti tarbiyah. Konsekuensinya aku banyak meminjam buku yang berkaitan tentang hati daripada akhwat. Kata akhwat, “Kenapa,nak jadi ruhi ke?” Aku membiarkan sahaja usikan itu berlalu begitu sahaja. Niatku semoga aku dapat menjaga hatiku ini seperti yang Allah dan Rasulullah s.a.w ajarkan…
Sabtu yang lepas,tengah aku duduk-duduk membaca buku tulisan Dr. Aidh al-Qarni,tiba-tiba 1 message masuk ke inbox hanphoneku.Message dari bekas mutarabbiyahku. Selepas membaca message dari Azlin itu, aku terfikir sesuatu sebelum me’reply’ messagenya. Aku menyelak-nyelak buku di tanganku. Tepat sekali tajuk buku yang sedang dibaca dengan masalah Azlin ni. “Keajaiban & Mukjizat Cinta kepada Allah”.
Azlin bertanyakan bagaimana nak menjaga hati. Katanya susahnya mau menjaga hati. Selepas itu aku menaip message ini.
“anti maksudkan menjaga hati dari segi apa? Menjaga hati dari perasaan suka pada lelaki atau menjaga hati dari penyakit-penyakit hati?”
Dia me’reply’
“hehe, yang pertama tu,akak…susah ni mau jaga. Makin dihalang,makin kuat pulak. Dugaan betul. Bagi la tips”
“Oh,kalau mau tips tak muat ni taip dalam message. Macam ni la,akak nak online after ni. InsyaAllah kejap lagi akak emel pada anti tip-tipnya,boleh? Dalam setengah jam lagi,insyaAllah”
Selepas itu aku ke megalab. Tak de laptop tak menjadi masalah untuk on-line. Kemudahan yang disediakan di university perlu digunakan sebaik mungkin. Aku menaip emel kepada Azlin.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah, Allah masih memberi kita satu perasaan yang normal untuk merasakan sesuatu yang memang menjadi fitrah kepada setiap manusia. Keinginan untuk mempunyai seseorang untuk dicintai itu wajar, tapi bagaimana caranya itulah yang perlu kita perhatikan. Adakah mengikut syariat atau sebaliknya. Tambahan lagi dalam usia remaja ni memang perasaan itu akan semakin kuat. Indahnya Islam ini mengajarkan kita cara untuk berhadapan dengan perasaan begitu. Islam menggariskan penyelesaian untuk setiap larangan yang diperintahkan. Solusinya adalah pernikahan. Tapi ada kemudahan di situ bilamana kita tidak mampu. Solusi kepada ketidakmampuan itu adalah puasa. Maka berpuasalah jawabnya. Jika berpuasa pun tidak menyelesaikan, maka kahwinla..(“.)
Cuma kita kena perhatikan macam mana puasa kita yang dikatakan mampu untuk megawal perasaan itu. Kadang-kadang mungkin puasa kita hanya sekadar menahan diri dari tak makan dan tak minum. Jika kita benar-benar niatkan puasa itu sebagai benteng untuk menjaga keimanan kita, insyaAllah ia akan benar-benar menjadi perisai untuk kita.
Then, ni tips-tips yang akak dapat dari buku-buku yang akak baca untuk membantu bagi yang belum dapat pelepasan untuk bernikah dari parents lagi dan dalam masa yang sama tengah berusaha menjaga hati…
1. Zikrullah, insyaAllah dengan mengingati Allah hati-hati akan menjadi tenang.(13:28). Tapi ada juga mengadu pada akak,dah zikir tapi sama jak. Maksudnya di sini kita belum betul-betul menghayati maksud zikir tersebut. Sebagai contoh, if kita sebut subhanallah. Apa yang kita fikir bila sebut subhanallah? Lisan kita perlu diselarikan dengan hati kita, bila disebut subhanallah,bayangkanlah betapa hebatnya kekuasaan Allah terhadap sesuatu perkara. Dan perkara ini tentunya perlukan ilmu. Sesuatu yang kita buat dengan ilmu dan kefahaman semestinya tidak sama sekiranya kita tidak mempunyai ilmu.(58:11)
2. Yang kedua, cuba timbulkan rasa takut kita pada Allah dan Rasulullah saw. Bayangkan tengah-tengah kita bermaksiat atau teringat kepada perkara yang tidak sepatutnya itu,tiba-tiba kita mati… nauzubillah. Dan bayangkanlah pulak sekiranya kita mengizinkan hati kita melakukan perkara tersebut seolah-olah kita sedang menyakitkan hati Rasulullah saw. Wajarkah begitu? Mestilah tidak,kan… insyaAllah akak yakin kita semua sedang berusaha mencintai Rasulullah saw. Jadi,usahakanlah kita melakukan perkara yang Rasulullah suka agar kita dapat menyukakan hati Nabi kita yang tercinta.
3. Sibukkan diri dengan kebaikan-kebaikan yang lain,sebagai contoh banyakkan ziarah akhwat-akhwat yang lain. Cuba taaruf dengan akhwat. Kenali sisi-sisi kebaikan setiap akhwat. Ciptakan moment terindah kita bersama-sama akhwat. Mungkin kurangnya kebersamaan kita dengan akhwat menyebabkan kita cenderung untuk teringat pada orang yang tidak layak kita ingat. Dan bila bersama akhwat pulak,isilah masa-masa bersama itu dengan perkara-perkara yang berfaedah. Belajar sama-sama,refresh hafalan…hadith dan surah-surah lazim…insyaAllah,bila banyak masa kita dihabiskan dengan orang-orang yang sedang berusaha membina diri di samping membina orang lain,insyaAllah keimanan kita akan terjaga.
Sesungguhnya kekuatan itu datangnya dari Allah. Pohonlah pertolongan kepada Allah dengan solat dan sabar.(2:153). Kadang-kadang kita diuji dengan ujian yang berat kerana Allah merindui rintihan kita. Mengadulah pada-Nya di kesyahduan waktu-waktu tahajud. Menangislah di hadapan-Nya memohon kebersihan hati kita dalam menjalani hidup yang penuh dengan ranjau dan onak ini…insyaAllah Allah tak kan sia-siakan permintaan hamba-hamba-Nya yang meminta kepada-Nya…
PUT YOUR TRUST IN ALLAH…(“,)
p/s : if nak menjaga diri dari penyakit-penyakit hati seperti sifat-sifat mazmunah yang ada dalam diri,banyakkan membaca buku tazkiyatunnafs(penyucian jiwa)…tambahkanlah ilmu di dada kerana ilmu itu cahaya,jahil itu berbahaya…
Semoga dapat membantu….doakan akak jugak…
selepas aku menghantar emel pada azlin, aku termenung sendirian memikirkan hidup ini
‘subhanallah,hidup ini penuh ranjau dan rintangan. Hanya iman dan taqwa kepada-Mu yang menjadi kekuatan untuk hati-hati ini sentiasa dalam kebaikan.alhamdulillah,jadikanlah hati-hati ini sentiasa menyedari kehambaan kepada-Mu…sesungguhnya Engkau yang memegang hati-hati ini untuk terus tegar di jalan ini. Jangan Engkau biarkan hati-hati ini bermaksiat kepada-Mu keranan natijahnya sangat besar kepada dakwah…Ya Allah,bersihkanlah hati-hati kami.’
“Hati-hati menjaga hati, Ain”. Pesanan itu disampaikan oleh kak Nor yang sama-sama denganku mabit di rumah akhwat,. Aku memandang wajah kak Nor meminta penjelasan kerana kiraku ada maksud yang tersirat di sebalik pesanannya itu. Sambil tersenyum dia memegang tanganku dan berkata, “Hati kita ibarat teko, kalau yang diisi itu airnya teh, maka bila dituang juga air teh kan”.
Aku hanya mengiakan dengan mengangguk. Kak Nor menyambung lagi, “Jadi bila hati kita diisi dengan perkara kebaikan,maka kebaikan juga yang akan kita lakukan dalam kehidupan seharian kita. Mustahil bilamana diisi hati kita dengan keburukan, yang keluarnya kebaikan atau diisi dengan kebaikan , yang dikeluarkan keburukan atau kejahatan. Ibaratnya kita isi teko tu dengan air habbatussauda,tapi bila kita tuang air dari teko tu yang keluarnya tiba-tiba air tebu”. Aku ketawa dengan kata-kata kak Nor yang terakhir itu. Walaupun berbentuk gurauan tapi ada kebenarannya.
Pesanan kak Nor itu disampaikan beberapa tahun yang lepas, waktu aku di tahun satu. Sekarang hampir 4 tahun berlalu tapi aku sentiasa mengingatinya…Pesanan yang sangat bermakna untuk orang yang baru mengenali apa itu erti tarbiyah. Konsekuensinya aku banyak meminjam buku yang berkaitan tentang hati daripada akhwat. Kata akhwat, “Kenapa,nak jadi ruhi ke?” Aku membiarkan sahaja usikan itu berlalu begitu sahaja. Niatku semoga aku dapat menjaga hatiku ini seperti yang Allah dan Rasulullah s.a.w ajarkan…
Sabtu yang lepas,tengah aku duduk-duduk membaca buku tulisan Dr. Aidh al-Qarni,tiba-tiba 1 message masuk ke inbox hanphoneku.Message dari bekas mutarabbiyahku. Selepas membaca message dari Azlin itu, aku terfikir sesuatu sebelum me’reply’ messagenya. Aku menyelak-nyelak buku di tanganku. Tepat sekali tajuk buku yang sedang dibaca dengan masalah Azlin ni. “Keajaiban & Mukjizat Cinta kepada Allah”.
Azlin bertanyakan bagaimana nak menjaga hati. Katanya susahnya mau menjaga hati. Selepas itu aku menaip message ini.
“anti maksudkan menjaga hati dari segi apa? Menjaga hati dari perasaan suka pada lelaki atau menjaga hati dari penyakit-penyakit hati?”
Dia me’reply’
“hehe, yang pertama tu,akak…susah ni mau jaga. Makin dihalang,makin kuat pulak. Dugaan betul. Bagi la tips”
“Oh,kalau mau tips tak muat ni taip dalam message. Macam ni la,akak nak online after ni. InsyaAllah kejap lagi akak emel pada anti tip-tipnya,boleh? Dalam setengah jam lagi,insyaAllah”
Selepas itu aku ke megalab. Tak de laptop tak menjadi masalah untuk on-line. Kemudahan yang disediakan di university perlu digunakan sebaik mungkin. Aku menaip emel kepada Azlin.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah, Allah masih memberi kita satu perasaan yang normal untuk merasakan sesuatu yang memang menjadi fitrah kepada setiap manusia. Keinginan untuk mempunyai seseorang untuk dicintai itu wajar, tapi bagaimana caranya itulah yang perlu kita perhatikan. Adakah mengikut syariat atau sebaliknya. Tambahan lagi dalam usia remaja ni memang perasaan itu akan semakin kuat. Indahnya Islam ini mengajarkan kita cara untuk berhadapan dengan perasaan begitu. Islam menggariskan penyelesaian untuk setiap larangan yang diperintahkan. Solusinya adalah pernikahan. Tapi ada kemudahan di situ bilamana kita tidak mampu. Solusi kepada ketidakmampuan itu adalah puasa. Maka berpuasalah jawabnya. Jika berpuasa pun tidak menyelesaikan, maka kahwinla..(“.)
Cuma kita kena perhatikan macam mana puasa kita yang dikatakan mampu untuk megawal perasaan itu. Kadang-kadang mungkin puasa kita hanya sekadar menahan diri dari tak makan dan tak minum. Jika kita benar-benar niatkan puasa itu sebagai benteng untuk menjaga keimanan kita, insyaAllah ia akan benar-benar menjadi perisai untuk kita.
Then, ni tips-tips yang akak dapat dari buku-buku yang akak baca untuk membantu bagi yang belum dapat pelepasan untuk bernikah dari parents lagi dan dalam masa yang sama tengah berusaha menjaga hati…
1. Zikrullah, insyaAllah dengan mengingati Allah hati-hati akan menjadi tenang.(13:28). Tapi ada juga mengadu pada akak,dah zikir tapi sama jak. Maksudnya di sini kita belum betul-betul menghayati maksud zikir tersebut. Sebagai contoh, if kita sebut subhanallah. Apa yang kita fikir bila sebut subhanallah? Lisan kita perlu diselarikan dengan hati kita, bila disebut subhanallah,bayangkanlah betapa hebatnya kekuasaan Allah terhadap sesuatu perkara. Dan perkara ini tentunya perlukan ilmu. Sesuatu yang kita buat dengan ilmu dan kefahaman semestinya tidak sama sekiranya kita tidak mempunyai ilmu.(58:11)
2. Yang kedua, cuba timbulkan rasa takut kita pada Allah dan Rasulullah saw. Bayangkan tengah-tengah kita bermaksiat atau teringat kepada perkara yang tidak sepatutnya itu,tiba-tiba kita mati… nauzubillah. Dan bayangkanlah pulak sekiranya kita mengizinkan hati kita melakukan perkara tersebut seolah-olah kita sedang menyakitkan hati Rasulullah saw. Wajarkah begitu? Mestilah tidak,kan… insyaAllah akak yakin kita semua sedang berusaha mencintai Rasulullah saw. Jadi,usahakanlah kita melakukan perkara yang Rasulullah suka agar kita dapat menyukakan hati Nabi kita yang tercinta.
3. Sibukkan diri dengan kebaikan-kebaikan yang lain,sebagai contoh banyakkan ziarah akhwat-akhwat yang lain. Cuba taaruf dengan akhwat. Kenali sisi-sisi kebaikan setiap akhwat. Ciptakan moment terindah kita bersama-sama akhwat. Mungkin kurangnya kebersamaan kita dengan akhwat menyebabkan kita cenderung untuk teringat pada orang yang tidak layak kita ingat. Dan bila bersama akhwat pulak,isilah masa-masa bersama itu dengan perkara-perkara yang berfaedah. Belajar sama-sama,refresh hafalan…hadith dan surah-surah lazim…insyaAllah,bila banyak masa kita dihabiskan dengan orang-orang yang sedang berusaha membina diri di samping membina orang lain,insyaAllah keimanan kita akan terjaga.
Sesungguhnya kekuatan itu datangnya dari Allah. Pohonlah pertolongan kepada Allah dengan solat dan sabar.(2:153). Kadang-kadang kita diuji dengan ujian yang berat kerana Allah merindui rintihan kita. Mengadulah pada-Nya di kesyahduan waktu-waktu tahajud. Menangislah di hadapan-Nya memohon kebersihan hati kita dalam menjalani hidup yang penuh dengan ranjau dan onak ini…insyaAllah Allah tak kan sia-siakan permintaan hamba-hamba-Nya yang meminta kepada-Nya…
PUT YOUR TRUST IN ALLAH…(“,)
p/s : if nak menjaga diri dari penyakit-penyakit hati seperti sifat-sifat mazmunah yang ada dalam diri,banyakkan membaca buku tazkiyatunnafs(penyucian jiwa)…tambahkanlah ilmu di dada kerana ilmu itu cahaya,jahil itu berbahaya…
Semoga dapat membantu….doakan akak jugak…
selepas aku menghantar emel pada azlin, aku termenung sendirian memikirkan hidup ini
‘subhanallah,hidup ini penuh ranjau dan rintangan. Hanya iman dan taqwa kepada-Mu yang menjadi kekuatan untuk hati-hati ini sentiasa dalam kebaikan.alhamdulillah,jadikanlah hati-hati ini sentiasa menyedari kehambaan kepada-Mu…sesungguhnya Engkau yang memegang hati-hati ini untuk terus tegar di jalan ini. Jangan Engkau biarkan hati-hati ini bermaksiat kepada-Mu keranan natijahnya sangat besar kepada dakwah…Ya Allah,bersihkanlah hati-hati kami.’
mulakan langkahmu
Bismillahirrahmanirrahim…
Sinergi
“Apabila semuanya dihubungkan dengan
keimanan
Maka ia akan menghasilkan sesuatu
yang luar biasa”
Aku menulis ini Ya Allah
Hanya Untuk-Mu
Hajatnya hendak mengembalikan
diri dan insan lain kepada
keimanan
Tetapi aku hanya pengusaha,
Ya Allah
Kau yang memberikan keputusan
Maka kepada-Mu aku
memohon pertolongan
Sampaikanlah apa yang aku tulis
ini
Ke dalam hatiku
Dan seluruh kehidupan insan
-seorang hamba-
(petikan dari Novel Sinergi – Karya Hilal Asyraf)
Keinginan untuk menulis telah lama ada,tetapi untuk menghadirkan rasa untuk berbuat itu memerlukan mujahadah,kerana ku tahu sesuatu perkara itu perlu dilakukan dengan komitmen bukan sekadar suka-suka. Jazakillah khairan jaza kepada akhwat-akhwat yang sentiasa memberikan motivasi untuk sama-sama menyebarkan fikrah islam kepada masyarakat. Semoga sedikit usaha ini menjadi bekal di akhirat kelak. Semoga dengan sedikit perkongsian ilmu dan iman dari diriku yang lemah ini menjadi amal yang terus berlanjutan walaupun mungkin sudah dijemput Ilahi Ya Rabbi…
Thursday, October 14, 2010
jejak pertama
bismillahirrahmanirrahim
alhamdulillah dengan izinNya dapat juga ana menulis post yang pertama.Walaupun dah lama blog ini ada...
dinamakan jejak pertama kerana inilah jejak pertama yang berjaya di antara 100 jejak yang ditulis..terima kasih kepada seorang cikgu yang menunjukkan video 'jejak-jejak' Danang A.P...inspirasi daripada video itu menyebabkan ana ter'booster' untuk melakukan perkara yang ana kurang sukai...
dan, alhamdulillah berjaya untuk 'create' blog sendiri...nama blog ni ana dapat waktu bulan Ramadhan yang lalu bila dengar slot 'jejak muttaqin' di radio IKIM.fm...subhanallah,semoga Allah memberi keizinan untuk mengikuti jejak-jejak golongan yang bertaqwa...amin, Ya Mujib...
alhamdulillah dengan izinNya dapat juga ana menulis post yang pertama.Walaupun dah lama blog ini ada...
dinamakan jejak pertama kerana inilah jejak pertama yang berjaya di antara 100 jejak yang ditulis..terima kasih kepada seorang cikgu yang menunjukkan video 'jejak-jejak' Danang A.P...inspirasi daripada video itu menyebabkan ana ter'booster' untuk melakukan perkara yang ana kurang sukai...
dan, alhamdulillah berjaya untuk 'create' blog sendiri...nama blog ni ana dapat waktu bulan Ramadhan yang lalu bila dengar slot 'jejak muttaqin' di radio IKIM.fm...subhanallah,semoga Allah memberi keizinan untuk mengikuti jejak-jejak golongan yang bertaqwa...amin, Ya Mujib...
Subscribe to:
Comments (Atom)